Untuk menggapai impian butuh pengorbanan.
Untuk mencapai cita-cita butuh tekad yang bulat.
Untuk menjalani kehidupan yang bahagia butuh kejujuran dan kepercayaan.
Melupakan masa lalu bagiku, sama seperti mengobati luka bakar di kulit. Mengobatinya bisa dalam waktu 1-2 minggu, tapi menghilangkan bekasnya butuh waktu yang relatif lama. Semua cara dilakukan dan segala obat dipakai untuk menghilangkannya secepat mungkin. Namun hasilnya belum tentu memuaskan saat dilihat secara detail.
Begitulah yang terjadi dalam kehidupanku sejak aku kehilangan orang yang betul-betul aku sayang. Dia seperti permata yang harus aku jaga pancaran cahayanya dan jangan sampai permata itu pecah dan akhirnya cahaya indahnya pun jadi terbagi. Cinta yang aku rasakan ketika aku duduk di bangku SMA membuatku punya tujuan yang jauh lebih mantab, hanya harapan itu putus ditengah jalan seiring dengan berjalannya waktu. Dia yang aku idolakan, dia yang aku banggakan, dia yang aku jadikan raja malah membuatku merana dan menderita.
Bukan wajah tampannya atau banyak hartanya yang aku lihat, tapi dari sisi dia selalu memperlakukan aku seperti ratu. Dia memberi motivasi, dia memberi cinta, dia memberi sayang, dia memberi hati dan dia juga yang memberi racun mematikan. Semua itu terjadi dalam waktu yang hampir tergolong lama. ± 3 tahun lamanya kami menjalin hubungan itu dan hasilnya membuatku terpukul dan sakit sampai sekarang.
Sudah 5 tahun rasa ini selalu menyesakkan hatiku dan mengganggu pikiranku. Aku akui, aku belum bisa melupakannya secara total. Ini semua karena luka yang aku rasakan sangat menyakitkan. Semua cara aku lakukan untuk mengembalikan rasa itu, hasilnya nihil. Dan akhirnya aku menyerah dan mencoba membuka hati dengan orang lain.
Aku menemukan sosok pria yang bisa membuatku senang dan nyaman saat bersama dengan dia. Aku menjalin hubungan dengannya dengan cinta yang tersisa. Selama aku menjalin hubungan dengannya aku mencoba untuk melupakan yang pertama. Dengan rasa yang ada aku mencoba bahagia dengan yang kedua ini, namun dibalik semua itu aku masih merasakan sakit yang tidak terobati. Rasa rinduku kepada dia yang pertama, aku lampiaskan kepada dia yang kedua. Semua emosionalku kepada yang pertama, aku lampiaskan kepada dia yang kedua. Walau aku sadar itu sangat menyakitkan, tapi aku selalu melakukannya. Hal ini tidak bisa aku pungkiri karena sangat dan sangat sulit bagiku menerima kenyataan ini.
Di tengah aku sudah mulai bisa melupakan yang pertama, keluarga pihak kedua mulai menyiksa hubungan kami. Masalah demi masalah yang aku hadapi makin rumit dan runyam. Apalagi setelah aku tahu dia lebih berpihak pada keluarganya, itu membuat aku semakin tertekan. Luka yang aku rasakan sudah hampir hilang terbakar lagi. Hatiku semakin pedih, perih, pikiranku mulai kacau dan akhirnya aku kembali dengan masa kelamku, mencari solusi dengan penuh ratapan tanpa ada tindakan.
Keluhan demi keluhan selalu menghiasi hari-hariku. Penyesalan demi penyesalan menemani kehidupanku. Selalu menyalahkan diri sendiri dan bercanda dengan hati sengaja aku lakukan untuk mengobati lukaku. Aku mencari hiburan untuk melupakan masa kelamku dengan cara bercanda dengan setiap orang mengatakan suka padaku. Aku kembali ke awal, mempermainkan kata-kata cinta dan bercanda dengan cinta.
Aku mulai terbuai dalam permainanku sendiri. Permainan hati tertutup tanpa ada keseriusan untuk menjalin hubungan. Aku mulai gila dengan hari-hariku. Aku abaikan rasa-rasaku. Dan di balik kegilaanku aku menangis, aku meratap dan aku jatuh. Semua kelam, suram dan menyakitkan.
Sosok pria kembali memperhatikanku dan tertarik padaku. Dia mengagumiku, dia jatuh hati padaku. Dia sosok pria yang pernah aku sukai waktu aku duduk di bangku SMP. Dia mengutarakan isi hatinya sejak aku masih punya hubungan dengan pria kedua, dan aku selalu mengatakan aku masih punya pacar. Tapi dia tidak juga menyerah. Bahkan dia selalu memberi perhatian baik via facebook, sms bahkan telefon. Hingga akhirnya aku mencoba beranikan diri untuk kembali membuka hatiku dan memberi respon perasaannya.
Satu hari sebelum dia berangkat ke Papua, kami jalan dan menikmati suasana alam sejenak. Gerimis yang menemani perjalanan kami sampai ke tujuan. Di alam terbuka kembali lagi dia menyatakan perasaannya dan akhirnya aku terima. Di satu sisi aku bahagia dengan semua rasaku, tapi di sisi lain aku menangis, aku harus melewati hari-hariku dengan cinta yang terpisah oleh jarak dan waktu.
Bayang-bayang rindu sudah mulai membuatku takut. Apakah aku sanggup menjalani hubungan jarak jauh begini? Apakah aku mampu menjaga rasa setia ini? Apakah aku tahan dengan cobaan ini nantinya? Pertanyaan-pertanyaan muncul satu per satu membuatku terdiam di hadapanya. Aku tidak mampu berkata apa-apa. Rasanya sangat menakutkan.
Airmata pun banjir tanpa aku sadari saat pikiran aku bermain dengan semua pertanyaan-pertanyaan itu. Aku mencoba untuk menyembunyikan perasaanku, namun semua itu bisa dibacanya. Kekhawatiranku segera ditenangkannya dengan sentuhan tangannya. Saat itu dia memberi suatu pandangan tentang hubungan kami. Tekad dia yang begitu bulat dan matang sangat mempengaruhi pikiranku, walau saat itu aku mengiyakan dengan pikiran mempertimbangkan lebih matang lagi. Tujuan hubungan yang kami jalin sangat jelas dituturkannya dan tegas dikatakan. Dia akan datang untuk memenuhi janjinya dan akan selalu memperhatikanku dari kejauhan setiap saat.
Keberangkatannya menuju kota Papua meninggalkan kesan yang sangat berbekas dan berpengaruh dalam kehidupanku. Dia pergi diantarkan oleh orang tuanya, dan disaat itu juga dia menyempatkan diri pamitan sama aku dan menegaskan janji kami dalam ikatan cinta kasih setia. Saat dia sudah jauh dari tatapan mataku, aku hanya bisa menangis, menangis dan berdoa semoga aku mampu menjalani ini semua.
Sudah lima bulan lebih kami menjalin hubungan jarak jauh ini. Kami lewati hari-hari ini dengan posisi dia di Papua dan aku di Jakarta. Sampai hari ini aku masih tetap bisa merasakan dia sering di samping aku. Tiada keraguan bagi kami dalam menjalani hubungan ini. Bahkan aku merasakan cinta dan sayang yang semakin besar terhadapnya. Bukanlah hal yang mudah menjalani hubungan seperti ini. Kepercayaan dan kejujuran sangat penting demi menjaga kesetiaan.
Dan ada waktunya kesetiaan kami diuji. Masalah yang membuat aku panik mendera hubungan kami. Pria kedua mulai mengirim SMS teror kepada pacarku. Pesan-pesannya berisikan kalimat-kalimat yang sangat buruk dan menyakitkan dan itulah awalnya aku bercerita bagaimana kelamnya masa laluku dengan kedua pria sebelum dia. Aku tahu dia sangat sedih dan sakit mendengar tentang kejujuran itu dan aku yang dihantui seribu rasa takut dan ragu mulai mengatakan semuanya tanpa ada lagi yang aku tutupi, baik itu aibku sendiri. Aku malu dan merasa berdosa karena masa laluku. Saat itu juga aku sudah pasrah dengan hubungan ini. Aku sudah pasrah merasakan sakit lagi jika hubungan ini berakhir. Aku hanya bisa terdiam dan menangis serta memaki diri sendiri karena kebodohanku di masa lalu.
Namun siapa sangka kalau hubungan itu akan baik-baik saja bahkan semakin erat setelah masalah besar itu mendera. Terkadang sebuah kejujuran itu sangat sulit dilakukan dan sangat menyakitkan namun hasilnya sangat membanggakan dan menyenangkan. Itulah yang terjadi pada hubungan kami. Dia tetap menerima aku dalam keadaan apapun dan kami pun tetap menjalani hubungan ini semampu kami dan yang pasti tetap berserah pada Tuhan.
Semua perkara yang kami hadapi selalu Tuhan yang turut campur tangan. Tuhan selalu kami libatkan dalam kehidupan kami. Sampai saat ini aku bisa menulis kenyataan hidupku, kasih, cinta dan sayang kami semakin besar dan semakin erat. Bahkan bayang masa lalu sudah mulai hilang dari kehidupanku.
Sekarang masalah yang sulit kami hadapi adalah menahan rasa rindu yang sangat mendalam dan fokus dengan pekerjaan kami masing-masing. Hal ini harus kami jalani dan lewati dengan baik dan semangat karena tujuan hubungan ini ke depannya adalah membangun bahtera baru. Oleh karena itu, kami harus mempersiapkan semuanya sedini dan sebaik mungkin. Inilah yang menjadi motivasi kami dan tetap doa permohonan kami. Dan tetap dalam prinsip aku adalah kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar